Penghasilan TAMBAHAN? ----- Memiliki USAHA SENDIRI? ----- Bahagiakan KELUARGA? ----- RUMAH /MOBIL baru? ----- Wisata ke LUAR NEGERI? ----- PENSIUN dengan tenang? ----- Bebas UANG dan WAKTU? ----- PENDIDIKAN anak? ----- Pengembangan diri? ----- Membantu orang lain?
animasi  bergerak gif
animasi  bergerak gif
WUJUDKAN IMPIAN, CITA-CITA & CINTA ANDA !!!

Jumat, 02 Maret 2012

Jejak John Kei, Sang "Mafioso" Dari Pulau Kei Maluku

Pahit dan manis kehidupan tampaknya sudah dialami John Kei (42). Sejak usia belia, John memutuskan keluar dari tanah kelahirannya di Tutrean, Pulau Kei, Maluku, menuju ke Surabaya pada tahun 1986. Setahun kemudian, John datang ke Ibu Kota dan mulai memperkenalkan diri sebagai John Kei kendati nama aslinya adalah John Refra.

John yang sifatnya cuek ini tak malu harus hidup di kolong jembatan saat di Surabaya. Di saat itu, John mulai harus berjuang sendiri untuk hidup. Kehidupan keras anak jalanan ditempuhnya. Dengan watak yang juga keras, John pun mampu bertahan.

Pindah ke Jakarta, keahlian John dalam bergaul dan memberikan pengaruh juga akhirnya berdampak dengan lingkungan barunya di kawasan Berlan, Jakarta Pusat. John kemudian tumbuh sebagai seorang "yang dituakan". Ia pula dipercaya sebagai Ketua Angkatan Muda Kei sejak tahun 1998 dan belum pernah digantikan hingga kini.

Sisi hitam

Berawal dari perjuangan seorang diri, John Kei kini justru memiliki belasan ribu pengikut setianya. Ia juga disebut-sebut memiliki bisnis jasa pengamanan, jasa penagihan, jasa konsultan hukum, dan pemilik sasana tinju Putra Kei yang memberikan kemakmuran tersendiri bagi John dan keluarganya. Tetapi, kehidupan John tidak lepas dari catatan kriminalnya yang cukup panjang.

Bahkan, John Kei sempat disandingkan dengan mafia-mafia di Italia dan diberikan gelar "Godfather Jakarta" karena berbisnis layaknya mafia, tetapi jarang tersentuh aparat kepolisian. Dari rangkaian kasus yang dikaitkan dengan dirinya, John baru sekali divonis penjara.

Perseteruan pertama terjadi pada tanggal 2 Maret 2004. Saat itu, massa dari Basri Sangaji dan John Kei bentrok di Diskotek Stadium, Taman Sari, Jakarta Barat. Sebelum peristiwa itu terjadi, John juga sempat diserang oleh massa Basri di Diskotek Zona sehingga membuat tiga jari tangannya kaku dan tak bisa digerakkan hingga kini.

Pada tanggal 12 Oktober 2004, nama John Kei kembali dikaitkan dengan Basri Sangaji. Basri tewas ditembak di bagian dada saat berada di dalam kamar 301 Hotel Kebayoran Inn, Jakarta Selatan. Di dalam kasus ini, John Kei lolos dari jeratan hukum karena tidak terbukti terlibat.

Namun, pada tanggal 11 Agutus 2008, John bersama adiknya, Tito Refra, benar-benar harus hidup di balik bui. Keduanya divonis delapan bulan penjara oleh Pengadilan Negeri (PN) Surabaya karena menganiaya dua pemuda, yakni Charles Refra dan Remi Refra, di Maluku. Jari kedua pemuda itu putus akibat penganiayaan tersebut.

John dan Tito akhirnya ditangkap oleh Densus 88 di Desa Ohoijang, Kota Tual, Maluku Tenggara. Saat itu, rencana persidangan akan digelar di Maluku, tetapi karena ada ancaman dari para pendukung John akhirnya sidang digelar di PN Surabaya. Loyalis-loyalis John Kei juga kembali membuat ulah.

Pada 4 April 2010, massa Kei bentrok di klub Blowfish dengan massa Thalib Makarim dari Ende, Flores. Dua anak buah John tewas. Perseteruan antara massa dari Flores dengan loyalis John juga kembali terjadi saat persidangan kasus Blowfish digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada tanggal 29 September 2010. Pada bentrok yang disertai dengan suara tembakan dan dikenal dengan peristiwa "Ampera Berdarah" itu, dua anggota kelompok John Kei tewas dan seorang sopir Kopaja juga turut menjadi korban. Saat itu, adiknya Tito mendapatkan luka tembak di dada dan nyaris masuk ke jantung. Namun, beruntung, Tito berhasil selamat.

Terakhir, John Kei kembali harus berurusan dengan aparat dalam kasus pembunuhan Tan Harry Tantono alias Ayung (45) di Swiss-Belhotel, Sawah Besar, Jakarta Pusat, pada tanggal 26 Januari 2012 lalu. Ayung tewas bersimbah darah dengan 32 luka tusukan di pinggang, leher, dan perut. John pun diduga menjadi dalang dalam pembunuhan Ayung yang merupakan klien pengguna jasa penagihannya.

Saat ini, kepolisian sedang membuka lagi kasus-kasus lama di mana John Kei lolos dari jerat hukum.

Sisi Putih

Adik kandung John Kei, Tito Kei, membantah bahwa kasus-kasus yang disebutkan tadi terkait semua dengan John Kei.

"Terkadang ada adik-adik kita yang buat onar dan bilangnya anak buah John Kei. Padahal, sama sekali tidak disuruh, karena kadang mereka kesal kakak saya diapain, terus mereka tidak terima dan bertindak sendiri," ungkap Tito, Selasa (21/2/2012), dalam perbincangan dengan Kompas.com di Rumah Sakit Polri Soekanto, Jakarta.

Ia mengatakan, meski secara fisik kakaknya terlihat seram dan galak, sebenarnya dia adalah sosok penyayang. "Coba saja yang kenal dekat dia. Pasti akan bilang dia orang paling baik karena dia sangat peduli dengan adik-adik atau orang-orang susah. Orangnya dermawan," tutur Tito.

Contoh kedermawanan John, imbuh Tito, ada dengan pembangunan sebuah gereja dan rumah pastor di kampung halaman mereka di Pulau Kei. John di sana menjadi penasihat pembangunan gereja, sedangkan Tito ketua pelaksananya.

"Kami mulai dari nol. Tukang dan bahan semua kami bawa dari Jawa. Rencananya April 2013 akan pemberkatan gereja," imbuhnya. Gereja itu dibangun selama empat tahun dari tahun 2007 sampai tahun 2011. Dana pembangunan didapat dari pemerintah daerah sebesar Rp 100 juta. "Tapi gereja itu biayanya miliaran, akhirnya kakak saya yang bantu semua," paparnya.

Selain membangun gereja, John juga memutuskan untuk membantu 20 rumah warga di Pulau Kei yang masih beratapkan jerami. Dia juga sempat membantu Umar Kei, keponakan John Kei, dengan memberikan lampu-lampu taman di halaman masjid. "Kalau ada yang bilang John Kei dan Umar Kei itu berseteru, itu tidak benar. Perseteruan itu hal yang biasa, tapi kami bisa rujuk lagi," imbuhnya.

Dengan sifat John Kei yang peduli itu, Tito menjadikan sosok John sebagai idola di dalam keluarga. "Saya tidak mungkin ada di Jakarta ini kalau tanpa bantuan dia," katanya. Tito mengetahui bahwa banyak orang yang mencap kakaknya layaknya seorang gangster. "Itu terserah orang menilai kami bagaimana. Kami tidak bisa halangi," tandasnya.



Kamis, 01 Maret 2012

Ipsos Global: Orang Indonesia Paling Bahagia Di Dunia

Berbagai permasalahan, mulai dari krisis ekonomi, bencana alam dan perang, ternyata tidak membuat rakyat Indonesia kehilangan kebahagiaan mereka. Menurut studi terbaru oleh Ipsos Global, orang Indonesia adalah yang paling bahagia di dunia.

Hasil survei Ipsos Global yang diterbitkan awal Februari lalu, yang dikutip oleh majalah Time, Kamis 1 Maret 2012, menitikberatkan pada kategori "bahagia" dan "sangat bahagia." Melibatkan 18.687 responden dewasa dari 24 negara dunia, Indonesia masuk dalam posisi teratas dalam kategori negara yang sangat berbahagia.

Sebanyak 51 persen dari warga Indonesia menyatakan mereka sangat bahagia. Kendati menempati posisi teratas, tapi tingkat kebahagiaan Indonesia dibandingkan survey Ipsos Global sebelumnya menurun hingga tujuh poin. Penurunan kebahagiaan drastis juga dialami oleh Brazil yang turun 9 poin dan Rusia yang turun enam poin.

Negara sangat bahagia kedua setelah Indonesia adalah India dan Meksiko dengan 43 persen, disusul Brasil dan Turki dengan 30 persen, Australia dan Amerika Serikat dengan 28 persen. Di sisi lain, beberapa negara diketahui hanya sedikit warganya yang merasa sangat bahagia. Seperti Italia yang kebahagiaan warganya ada di level 13 persen, Spanyol 11 persen, Hunggaria enam persen, Korea Selatan tujuh persen dan Rusia delapan persen.

Ipsos memulai tracking happiness di 24 negara dari tahun 2007, dan di lakukan 2 kali dalam setahun. Maret 2010 survei di lakukan setiap bulan untuk mencari jawaban atas pertanyaan: Apakah kita pada saat ini lebih bahagia dari masa sebelumnya?

Secara keseluruhan, dunia adalah tempat yang bahagia. Pada tahun 2007, 20 persen dari populasi global menyatakan bahwa mereka sangat bahagia, dan pada tahun 2011 naik menjadi 22 persen. Pada bulan Maret dan April 2010 mencapai poin tertinggi yaitu 26 persen.

Dalam mengukur kategori sangat bahagia, perbaikan terbesar ditemukan di Turki, dimana tingkat kebahagiaan warganya naik 16 poin sejak 2007. Kemudian diikuti Meksiko dengan kenaikan sampai 10 poin, Australia naik 7 poin, Jepang naik 6 poin, India dan Kanada masing-masing naik 5 poin. (umi)• VIVAnews


Rabu, 29 Februari 2012

Dhana Widyatmika Sang "Lelaki di Pintu Sorga" (2007) vs. Dhana WIdyatmika Sang "Tersangka" (2012)


Dhana Widyatmika, mantan pegawai Direktorat Jenderal Pajak tersangka kasus rekening gendut, masih menjalani pemeriksaan di Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Kamis 1 Maret 2012. Terlepas dari kasus hukumnya, sejak awal pekan ini, satu tulisan yang mengungkap sisi lain Dhana Widyatmika beredar di dunia maya.

Tulisan itu merupakan salinan dari Majalah Tarbawi Edisi 164 Th.8/Ramadhan 1428 H/21 September 2007 M.

Judul tulisan yang beredar di facebook dan twitter tertulis "Dhana Widyatmika, Lelaki di Pintu Surga." Widowati, reporter Tarbawi yang saat itu mewawancarai Dhana membenarkan bahwa tulisan itu merupakan hasil wawancara dirinya dengan pria bernama Dhana Widyatmika. Tapi, judul tulisan yang beredar di dunia maya itu salah. Judul aslinya "Meski Dalam Kondisi Sakit, Berkah dari Ridho Ibu Tidak Berubah."

Tulisan itu mengungkap sisi lain Dhana. Ibunda Dhana, saat itu divonis gagal ginjal. Sehingga harus rutin cuci darah 2-3 kali seminggu di Rumah Sakit Angkatan Udara di Jakarta Timur. Dhana, sulung dari dua bersaudara itu menjadi kepala keluarga karena sang ayah meninggal tahun 2005. Di bagian paragraf lain tertulis, Dhana biasa memegang kotoran ibunya. Tidak peduli bau menyengat dan tanpa rasa jijik. "Dhana waktu itu memang bilang itu biasa, tidak jijik," kata Widowati.

Widowati mengakui wawancara dengan pria bernama Dhana Widyatmika itu dilakukan sebelum Majalah Tarbawi edisi khusus Ramadhan itu terbit. Tetapi, Widowati yang saat ini menjabat Redaktur di Tarbawi, sangat berat memastikan bahwa pria yang saat itu diwawancarainya adalah orang yang sama yang saat ini tersandung kasus rekening gendut pegawai pajak.

Yang pasti, 5 tahun lalu, Widowati mewawancarai Dhana di sebuah tempat di Jakarta. Dalam bio data, Dhana yang diwawancarai Widowati saat itu beralamat di Jalan Elang Indoputra A7/15 Cipinang Melayu, Jakarta Timur. Persis seperti alamat Dhana yang menjadi tersangka Kejaksaan Agung.

"Itu rumah orangtuanya. Dia tinggal di situ bukan karena tidak mampu, karena ingin merawat ibunya," kata Widowati dalam perbincangan dengan VIVAnews. Widowati juga membenarkan bahwa ayah Dhana memang pensiunan militer.

Tidak hanya itu, Widowati juga mengakui bahwa pria bernama Dhana yang diwawancarainya saat itu memiliki satu buah showroom mobil. Tetapi, dia tidak memiliki minimarket. Penelusuran VIVAnews pada Minggu 26 Februari lalu, minimarket yang terletak tak jauh dari kediaman itu baru dimiliki pada 2006. Tapi dalam wawancara saat itu Widowati tidak terlalu memperdalam bisnis-bisnis Dhana.

Foto yang dimuat Tarbawi saat itu bergambar tiga orang. Adik Dhana di sebelah kiri memakai baju militer, ibunda berdiri di tengah dan Dhana Widyatmika memakai batik.

Kini foto lain Dhana berukuran pas foto di paspor juga beredar di publik. Apakah itu orang yang sama saat diwawancarai Widowati lima tahun lalu? "Fotonya sama, tapi saya tidak mau memastikan itu adalah pria yang sama," kata Widowati.

Widowati begitu berat memastikan bahwa orang yang diwawancarainya saat itu adalah Dhana yang sama. Dhana yang begitu sayang, perhatian, dan berbakti kepada ibundanya. "Seandainya itu orang yang sama, saya sedih. Yang ada di kepala saya beliau itu orang baik. Saya sungguh prihatin dan berharap ada jalan keluar untuk semua pihak yang terbaik," kata Widowati.


Sabtu, 25 Februari 2012

Perlu PETRUS?

  • Tidak Perlu Ada Lagi 'Petrus' untuk Berantas Preman

    Nograhany Widhi K - detikNews
    GbJakarta - Masih ingat dengan pemberantasan ala 'Petrus' di era Orde Baru? Banyak pihak menilai cara itu ampuh memberantas premanisme. Menurut Kabareskrim Polri Komjen Pol Sutarman, tidak perlu ada 'Petrus' seperti era 80-an kepada para preman. Polri hanya akan menggunakan senjata pada pihak yang nyata-nyata membahayakan jiwa orang lain. Bila Anda setuju dengan pendapat Kabareskrim Komjen Pol Sutarman, pilih Pro! ( nwk / nrl )

    Voters

    Pro (83)
    25%
    Kontra (262)
    75%
    Selengkapnya
  • PROsuli
    setujuuuuuu banget d hidupin petrus
  • PROhery
    setuju,mereka itu hanya membuat masyarakat yang baik takut.kalau ngak di dooorrr.....ya ngak takut tu preman. sekarang para preman sudah keterlaluan,sok jagoan...... dimana nih pak polisi???
  • PROBudi A
    Premanisme yg sudah tumbuh subur di negeri yg amburadul ini hanya bisa diberantas dengan tindakan yg tegas dari aparat penegak hukum. Saya yakin sekali aparat memiliki data-data dedengkot2 preman biang-biang rusuh di negeri ini. Gak usah ragu, apa bedanya preman2 yg keji itu dengan * ...?
  • PROpaidin
    Setuju aja, agar sebagai shock terapi. Keberadaan mereka kerap dijadikan alat pemaksa kehendak. Atau bila tidak ada job mereka bikin onar di masyarakat. Lihat tuh Pilkada dan lain-lain, sering melibatkan para preman untuk memaksa kehendak. Dan mereka itu sok banget. Sok kuasa sebagai kaum terpinggirkan. Padahal jika mereka diberi jabatan malah lebih korup lagi. Stop premanisme dengan cara apapun. Contoh : ada anak yg juara lomba Sains dibunuh oleh preman, hanya karena ingin BBnya. Yg lain,
  • PROfinoza
    lebih baik tembak di tempat untuk pelaku rusuh dan provokatif yang terang - terang ada di depan petugas berwenang, mungkin polri juga perlu berpatroli agar premanisme pun mati kutu,
  • PROsigitgoethe@gmail.com
    sangat setuju sekali dengan kembalinya \' petrus \' karena para preman di jaman sekarang ini sudah sangt meresahkan sekali.
  • PROalfa
    yaa sekarang bisa di lihat di tempat umum terbuka mereka terang\'an berani memberi kita ancaman.di tegur secara lisan pun mereka tidak peduli,mungkin dengan cara seperti di \'petrus\' membuat mereka patuh secara paksa yg efektif seperti jaman orde baru.karena setelah berlakunya jaman reformasi malah hukum di negara ini di anggap hanya buku bacaan saja.
  • PRObuyung
    Tidak perlu selama tindakan POLRI tegas,tidak pandang bulu karena suasana saat ini tidak sama dengan 30thn lalu. Kalau diterapkan malah bisa terjadi perang terbuka spt di kolumbia. Saat ini pamor/kewibawaan TNI/POLRI sedang melorot.
  • PROVendeta
    Negara kita adalah negara hukum, jadi setiap warga negara di jamin dalam undang-untuk mendapatkan perlindungan hukum baik itu orang baik atau orang jahat, semua di proses secara hukum, tidak ada seorangpun yang berkuasa terhadap nyawa orang lain apalagi menghilangkan nyawa orang lain tanpa di dasari oleh hukum dan perundangan. Sebaiknya kita jangan jadi keledai dengan berkaca ke masa lalu, sia-sia lah pengorbanan saudara2 kita selama ini untuk memperjuangkan demokrasi dan hukum sementara kita
  • PROBro Iqsan
    Setuju Banget Supaya Daerah2 Di Indoneisa Bebas DAri Premanisme. Lagi Pula Dengan Adanya Meraka Tidak Ada Gunanya Sama Sekalie Buat Warga Indonesia, Malah Menjadi Ancaman. Kalau BS Jangan Dari Kepolisian Juga Yg Berantas Premanisme, Masyarakat Juga Bs Brantan Premanisme...

Senin, 20 Februari 2012

Jagal Mujianto dan Kisah Cinta Dengan Majikannya, Benarkah?

Terlahir sebagai laki-laki normal, Mujianto, si pembunuh berantai, mengalami disorientasi seksual sejak mengenal Joko Suprianto. Mujianto mengaku disetubuhi majikannya sehari setelah bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Kepada dokter kejiwaan dari Kepolisian Daerah Jawa Timur dr Rony Subagia SpKj yang memeriksanya, Mujianto menceritakan ihwal kelainan seksualnya itu. Pria kelahiran 24 Januari 1988 ini mengaku tak memiliki sifat homoseksual sejak kecil. “Dia laki-laki normal,” kata Rony kepada Tempo, Senin, 20 Februari 2012.

Kehidupan normal itu dialami Mujianto setidaknya hingga berumur 22 tahun. Setelah gagal melanjutkan pendidikan formal ke sekolah menengah pertama, Mujianto memutuskan menjadi petani dan membantu ayah angkatnya, Parni, yang berprofesi sebagai buruh tani. Namun, ketika berusia 20 tahun, Mujianto memutuskan merantau ke Jakarta sebagai pedagang bakso.

Kerasnya kehidupan Ibu Kota membuat Mujianto patah arang dan pulang kembali ke desanya setelah dua tahun merantau. Selama proses pencarian kerja inilah Mujianto mengenal salah seorang pemain musik elektone di Kediri. Mujianto sangat tertarik menjadi bagian grup musik itu. “Dia ternyata hobi menyanyi,” kata Rony.

Gayung bersambut ketika koleganya itu membawa Mujianto kepada Joko Suprianto, 49 tahun, seorang guru Sekolah Menengah Pertama Negeri 6 Nganjuk yang juga pemilik grup musik elektone di Desa Sonopatik, Kecamatan Berbek, Nganjuk.

Setelah menyampaikan keinginan untuk menjadi penyanyi, Joko kemudian menampung Mujianto di rumahnya. Keinginan yang besar untuk menjadi penyanyi membuat Mujianto rela dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga di rumah itu.

Menurut dr Rony, perkenalan itulah yang mengubah kehidupan Mujianto secara drastis. Di malam pertama Mujianto menginap di rumah itu, Joko sudah mengajaknya berhubungan intim. Pada awalnya Mujianto sempat menolak ajakan itu. Namun, dengan segala rayuan yang dilakukan Joko, hubungan itu akhirnya terjadi.

Mujianto pada akhirnya juga merasa nyaman karena semua kebutuhan materinya dipenuhi. Sejak itulah Mujianto memposisikan Joko sebagai kekasihnya dan memosisikan dirinya sebagai pasangan laki-laki.

Perjuangan Mujianto untuk menjadi penyanyi akhirnya terwujud. Dia bahkan pernah menggelar pertunjukan musik di kampungnya, di Kediri, yang diiringi Joko sebagai pemain keyboard. “Mujianto menyanyi, suaranya enak,” kata Mujito, Kepala Dusun Pule, Desa Jati, Kediri, yang juga kerabat Mujianto.

Namun, ihwal kisah asmara antara sesama jenis itu disanggah Joko Suprianto. Dia berkukuh hanya mempekerjakan Mujianto sebagai pembantu rumah tangga dengan gaji Rp 200 ribu per bulan. “Dia saya tampung karena kasihan saja,” katanya beberapa waktu lalu.

HARI TRI WASONO


Kamis, 16 Februari 2012

Maestro Jazz Bubi Chen Meninggal Dunia, Kamis, 16 Februari 2012 (74 tahun)

Dunia musik Indonesia kembali berduka. Maestro jazz Bubi Chen meninggal dunia pada Kamis, 16 Februari 2012. Dia wafat di usia 74 tahun.

"Saya mendapat kabar Bubi Chen meninggal," kata pengamat musik Bens Leo kepadaVIVAnews. "Tapi saya tidak tahu di mana dia meninggal," kata Bens.

Bubi Chen kelahiran Surabaya, Jawa Timur, pada 9 Februari 1938. Di dunia musik jazz, namanya sudah terkenal hingga ke manca negara.

Bubi mengawali karirnya dari kota buaya itu dengan membentuk grup bernama The Circle. Selain itu, dia juga tergabung dalam kelompok All Stars. Pada 1967 dia dan All Stars tampil di Berlin Jazz Festival.

Pada tahun 1959, Bubi bersama Jack Lesmana, membuat rekaman bertitel Bubi Chen with Strings di Lokananta. Pada 1960 rekaman itu pernah disiarkan oleh Voice of Amerika dan dikupas oleh seorang kritikus jazz ternama dari AS, Willis Conover. Dia menyebut Bubi sebagai The Best Pianist of Asia.